PELATIHAN BADAN DIKLAT DEPARTEMEN PERTAHANAN

Pengalaman kami saat Program Pengalaman lapangan di lingkungan BADIKLAT DEPHAN banyak masukan yang kami terima salah satu nya adalah pembuatan pedoman Evaluasi (Laporan Evaluasi) , pembuatan TOR TOT, Pelaksanaan TOT, Pembuatan nota dinas saran terhadap Laporan evaluasi, dan kami pun ikut dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan yang telah dilaksanakan oleh Matdiklat Departemen pertahanan. salah satunya adalah TOT PC dan TOT Web Quest, setelah selesai pelatihan tersebut kami pun segera membagikan questioner kepada peserta pelatihan sebagai data evaluasi laporan kami yang akan kami susun setelah selesai program pengalaman lapangan ini. thanks....BADIKLAT DEPHAN... :)

Posted in | 0 komentar

Pengalaman observasi lapangan sekolah

sekedar share ajah....
kamis 2 April 2009 , saya melakukan observasi strategi pembelajaran beserta lingkungan kelas,
sampel yang saya gunakan kelas 2 IPA 1 dengan jumlah murid 40 siswa-siswi, Dengan standar kelas Internasional....
ruangan rapih,bersih, media pembelajaran dikelaspun sangat memadai
didalam kelas terdapat TV 29 inc flat, Tape radio, sound di setiap sudut kelas, AC, LCD, Computer, Loker, dan fasilitas lain yg mendukung pembelajaran tetapi pertanyaan saya apakah semua media itu dapat di pakai saat aliran listrik padam???? hal itupun bisa saja terjadi walau pun letak sekolah ditengah pusat kota tetap saja kemungkinan itu dapat terjadi.

efektif dan efesien ga sih kalau guru masih saja menggunakan metode mencatat dipapan tulis lalu siswa mencatat dibuku mereka ??? waktu bisa habis terpakai dengan kegiatan mencatat ....kasian murid & gurunya dongg...!!! disinilah funggsi modul.....

biasanya kasus yang sering terjadi pada murid yang duduk dibagian pojok belakang mereka sama sekali tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan didepan coba harus lebih diperhatikan. sebaik nya sistem letak tempat duduk jg harus di perhatikan bagi pengelolaan kelas mungkin bisa sajah pimpinan kepala sekolah memberikan peraturan baru agar setiap harinya siswa berpindah tempat duduk masing-masing anak memiliki no bangku pada saat awal mereka memasuki kelas baru.

ruangan juga penting bagi kenyamanan siswa dalam pembelajaran dalam pengelolaan kelas terlebih harus memperhitungkan cahaya, udara,suara yang masuk dalam kelas... seperti apa sih kelas yang nyaman itu kelas harus mendukung proses pembelajaran

sumber belajar guru harus kreatif diusahakan guru tidak bekerja sendiri dalam memikirkan media sumber belajar yang dipakai oleh siswa tentunya mereka harus bekerja sama dengan teknog pendidikan sehingga pembelajaran tidak membosankan dengan adanya media-media lain yang tentunya yang memotivasi siswa agar lebih menyenangi pembelajaran tersebut con: Cd animasi, video, simulasi banyak & masih banyak lg cara lain untuk meningkatkan kompetensi siswa.

seorang yang berprofesi Guru dengan selalu bersikap baik tentunya dimulai dari diri sendiri perbaikilah diri sebelum ingin memperbaiki orang lain, kalimat disini menyatakan bahwa tugas seorang guru itu mendidik memberikan contoh bukan untuk mengajari!!!
sedapat mungkin bersikap sebagai orang tua bukan menganiaya murid, untuk dapat mengatasi hal tersebut mungkin nanti bukan hanya setifikasi akta 4 sajah yang menjadi persyaratan keguruan tetapi syarat kejiwaan & mental mereka dalam menghadapi murid.

PENDIDIKAN INI BUTUH PERUBAHAN MARI TEMAN-TEMAN KITA BANGUN PENDIDIKAN INDONESIA......

Posted in | 1 komentar

Prosedur Pengembangan Bahan Ajar
Dalam mengembangkan bahan ajar yang baik, ada lima langkah utama yang sebaiknya diikuti yaitu:

Tahap analisis merupakan tahap untuk mencari informasi mengenai perilaku dan karakteristik awal yang dimiliki siswa.
Tahap perancangan adalah tahap perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan hasil analisis, pemilihan topik mata pelajaran, pemilihan media dan sumber, serta pemilihan strategi pembelajaran.
Tahap pengembangan merupakan tahap penulisan bahan ajar secara utuh. Tulislah apa yang dapat Anda tulis, tidak perlu harus urut.
Tahap evaluasi merupakan tahap yang harus dilalui untuk memperoleh masukan bagi penyempurnaan bahan ajar yang telah dikembangkan. Ada empat cara yang dapat dilakukan yaitu telaah oleh ahli materi, uji coba satu-satu, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan.
Berdasarkan komentar yang diperoleh pada setiap tahap evaluasi,
Tahap revisi dilakukan terhadap bagian bahan ajar yang perlu diperbaiki dan penyesuaian pada bagian lainnya agar bahan ajar yang dikembangkan tersebut menjadi bahan ajar yang utuh dan terpadu.

MODUL PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN MEDIA CETAK: MODUL, HANDOUT DAN LKS DALAM PEMBELAJARAN
Kegiatan Belajar Pengembangan dan Pemanfaatan Modul dalam Pembelajaran
Manfaat penggunaan medium modul yang utama dalam proses pembelajaran adalah memfasilitasi pembaca untuk mempelajari dan memahami materi tanpa perlu secara fisik didampingi guru/dosen/fasilitator.
Untuk dapat dimanfaatkan secara optimal dalam proses pembelajaran, medium modul harus dipersiapkan dengan memperhatikan aspek kedalaman materi dan kesiapan pembaca.
Secara umum, tahapan pengembangan medium modul terdiri dari empat tahap, yaitu (1) identifikasi tujuan instruksional, (2) memformulasi garis besar materi, (3) menulis materi, serta (4) menentukan format dan tata letak.
Medium modul dapat digunakan pada setiap tahap dalam proses belajar.
Kegiatan Belajar 2Pengembangan dan Pemanfaatan Handout dalam Pembelajaran
Handout merupakan salah satu bentuk media cetak. Handout lebih bersifat ringkas daripada modul karena fungsi utamanya sebagai suplemen.
Pengembangan handout dilakukan dengan mengikuti tahapan tertentu, yaitu penentuan tujuan instruksional, pemilihan materi, dan tampilan fisik.
Dalam proses pembelajaran, handout dapat digunakan sebagai sumber materi dan pengayaan.
Kegiatan Belajar 3Pengembangan dan Pemanfaatan LKS dalam Pembelajaran
LKS (Lembar Kerja Siswa) adalah materi ajar yang dikemas secara terintegrasi sehingga memungkinkan siswa mempelajari materi tersebut secara mandiri.
Dalam LKS siswa akan mendapat uraian materi, tugas, dan latihan yang berkaitan dengan materi yang diberikan.
Metode SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) merupakan salah satu metode yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan hasil yang optimal dari pemanfaatan media cetak untuk bahan ajar.
Desain untuk LKS harus memperhatikan variabel ukuran, kepadatan halaman, dan kejelasan.
Empat langkah dalam pengembangan LKS adalah (1) penentuan tujuan instruksional, (2) pengumpulan materi, (3) penyusunan elemen, serta (4) cek dan penyempurnaan.



MODUL EVALUASI BAHAN AJAR CETAK
Kegiatan Belajar Kelebihan dan Kelemahan Bahan Ajar Cetak
Segi positif pemakaian bahan ajar cetak dapat dikelompokkan dalam lima aspek, yaitu (a) aspek media, (b) aspek pengajaran, (c) aspek kualitas penyampaian, (d) aspek penggunaan, dan (e) aspek ekonomi.
Segi negatif penggunaan bahan ajar cetak meliputi (a) ketidakmampuan mempresentasikan gerak, (b) kesulitan dalam pemberian bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi, (c) kesulitan memberikan umpan balik, (d) memerlukan tingkat kemampuan baca tertentu, (e) memerlukan pengetahuan prasyarat, (f) kemungkinan digunakan sebagai alat menghapal, (g) memuat terlalu banyak terminologi, dan (h) cenderung pasif dan satu arah.
Faktor yang perlu diperhatikan pada saat mengembangkan bahan ajar meliputi: (a) kecermatan isi / materi, (b) ketepatan cakupan isi, (c) ketercernaan pemaparan, (d) penggunaan bahasa, (e) perwajahan, (f) penggunaan ilustrasi, dan (g) kelengkapan komponen.
Kegiatan Belajar 2Variabel dan Evaluasi
Ada tiga pertanyaan yang harus dijawab sebelum seseorang dapat menentukan evaluasi seperti apa yang akan dilakukan terhadap bahan ajar cetak, yaitu: (a) Apa yang dievaluasi?, (b) Siapa yang akan dilibatkan?, dan (c) Aspek apa yang dievaluasi?
Format untuk evaluasi bahan ajar cetak dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dengan memperhatikan bentuk bahan ajar cetak, aspek yang dievaluasi, dan asal bahan ajar cetak.

Posted in | 0 komentar

KAOSS pesenan lombok kencana
















Posted in | 1 komentar

Contoh Desain Quw....

Kaos pesenan anak STTD















Posted in | 0 komentar

ORGANISASI BELAJAR ITU ADALAH.....

Definisi Organisasi Belajar menurut para ahli :- Peter Senge

seperti dikutip oleh Yusufhadi Miarso (2002), mengemukakan definisi organisasi belajar sebagai suatu disiplin untuk mengembangkan potensi kapabilitas individu dalam organisasi yang dikenal dengan The Fifth Dicipline sebagai berikut:
1) Berpikir Sistem (Systems Thinking)

3) Pola Mental (Mental Models)
2) Penguasaan Pribadi (Personal Mastery)
4) Visi Bersama (Shared Vision)
5) Belajar Beregu (Team Learning)

- Pedler dan Dixon di dalam Beardwell dan Holden (2001) mendefinisikan organisasi belajar sebagai organisasi yang memfasilitasikan pembelajaran bagi seluruh anggotanya dan mentransformasikan secara sadar dalam konteks organisasi. Adapun maksud dan tujuan penggunaan proses belajar pada level individual, kelompok dan organisasi adalah untuk terus menerus mentransformasikan organisasi untuk memenuhi kepuasan stakeholder.

- Michael Marquardt seperti dikutip Swanson dan Holton (2001) mendefinisikan organisasi belajar sebagai suatu organisasi yang belajar secara kolektif dan bersemangat, dan terus menerus mentransformasikan dirinya pada pengumpulan, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan yang lebih baik bagi keberhasilan perusahaan.
Stephen Robbins (2002) mengemukakan bahwa organisasi belajar diperlukan bagi manajemen untuk mengembangkan kapasitas organisasi secara bersinambungan untuk menyesuaikan diri dan melakukan perubahan.
- Menurut Yusufhadi Miarso (2002), teknologi pembelajaran secara konseptual mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan organisasi belajar sebagai berikut:
• Pengetahuan tentang pemecahan masalah belajar baik pada level individual maupun level organisasional
• Penyediaan tenaga profesi (praktisi maupun akademisi) yang mampu mengintervensi organisasi agar dapat dan mau belajar.
• Aneka sumber daya belajar yang sengaja dikembangkan sesuai dengan kebutuhan organisasi.
• Sistem informasi yang diperlukan agar organisasi dapat memperoleh akses atas informasi yang terbaru secara cepat.

- Swanson dan Holton (2001) menyimpulkan organisasi belajar sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja dipengaruhi oleh faktor belajar, faktor strategi organisasi belajar dan faktor inovasi,
- ’Acquiring and applying knowledge, skills, values, beliefs and adtitudes that enhance the maintenance, growth and development of the organization’ Inti organisasi belajar adalah kemampuan organisasi untuk memanfaatkan kapasitas mental dari semua anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang akan menyempurnakan organisasi.
Di samping itu ada satu definisi yang mencoba menguraikannya secara lebih komprehensif. "Organisasi belajar adalah organisasi yang di dalamnya terdapat sistem, mekanisme, dan proses, yang digunakan secara kontinyu oleh anggota-anggotanya guna meningkatkan kapabilitas sehingga mampu mencapai sasaran pribadinya dan komunitas di mana dia berpartisipasi"

Posted in | 0 komentar

MODEL PROSES KEPUTUSAN INOVASI

EM.Rogers, dalam bukunya Diffusion of Innovation (1961) menyatakan bahwa difusi inovasi adalah suatu proses dimana inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial.
Proses keputusan Inovasi diartikan Rogers (2003) sebagai kegiatan mencari dan mengolah informasi dimana seorang individu dimotivasi untuk mengurangi keraguan mengenai kelebihan dan kekurangan dari sebuah inovasi. Proses keputusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yakni tahap pengetahuan, persuasi, keputusan, penerapan, dan konfirmasi.

Model Tahap-Tahap Proses Keputusan Inovasi
(Rogers, 1982. hal. 165)
I. TAHAP PENGETAHUAN (KNOWLEDGE)
Proses keputusan inovasi dimulai dengan tahap munculnya pengetahuan, yakni tahap dimana seorang individu menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Menyadari disini belum kepada taraf memahami, tetapi baru sebatas membuka diri untuk mengetahui inovasi.
Selama tahap ini, individu berusaha untuk memahami apa itu inovasi, bagaimana dan kenapa suatu inovasi dapat berfungsi. Rogers membagi pengetahuan tentang inovasi ke dalam tiga tipe, yaitu:
a. Awareness Knowledge, menggambarkan pengetahuan dari inovasi yang telah ada. Tipe pengetahuan ini dapat memotivasi individu untuk belajar lebih lanjut tentang inovasi dan, akhirnya, untuk mengadopsi itu. Selain itu, dapat mendorong individu untuk belajar tentang dua tipe pengetahuan berikutnya.
b. How to Knowledge, berisi informasi tentang bagaimana menggunakan sebuah inovasi dengan benar. Rogers melihat pengetahuan ini sebagai variabel penting dalam proses keputusan-inovasi. Untuk meningkatkan peluang adopsi dari sebuah inovasi, seorang individu harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana menggunakan inovasi. Pengetahuan ini sangat penting untuk inovasi yang relatif kompleks.
c. Principles Knowledge, terdiri dari informasi yang berhubungan dengan prinsip-prinsip yang berfungsi untuk mengetahui bagaimana dan mengapa inovasi bekerja.
Berkaitan dengan pengetahuan tentang inovasi, ada beberapa prinsip umum tentang orang yang lebih awal mengetahui inovasi, yakni :
a) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi pendidikannya daripada yang akhir
b) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih tinggi sosial ekonominya daripada yang akhir
c) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap media massa daripada yang akhir
d) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih terbuka terhadap komunikasi interpersonal, daripada yang akhir
e) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak kontak dengan agen pembaharu daripada yang akhir
f) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih banyak berpartisipasi dalam sistem sosial daripada yang akhir
g) Orang yang lebih awal tahu tentang inovasi lebih kosmopolitan daripada yang akhir

Tahap Pengetahuan merupakan tahap proses keputusan inovasi yang sangat berpengaruh bagi inovator, karena tahap ini berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan inovasi. Pengiklan ( inovator ) harus fokus pada upaya meningkatkan kesadaran dan pengetahuan ketika mempromosikan produk baru atau inovasi.

II. TAHAP BUJUKAN (PERSUASION)
Pada tahap persuasi, seorang individu membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi terhadap inovasi. Dalam tahap ini individu akan berusaha mengetahui lebih banyak tentang inovasi, dan menafsirkan informasi yang diterimanya. Maka akan terjadi seleksi informasi yang disesuaikan dengan kondisi dan sifat pribadinya. Disinilah peranan karakteristik inovasi dalam mempengaruhi proses keputusan informasi.
Kemampuan untuk mengantisipasi kemungkinan penerapan inovasi di masa datang, memiliki peranan yang sangat penting dalam tahap ini. Oleh karena itu diperlukan adanya gambaran yang jelas tentang bagaimana pelaksanaan inovasi, jika mungkin sampai kepada konsekuensi inovasi.
Hasil dari tahap persuasi ialah adanya penentuan menyenangi atau tidak menyenangi inovasi. Akan tetapi individu yang menyenangi inovasi belum tentu menerapkan inovasi. Ada kesenjangan antara pengetahuan, sikap, dan praktek. Misalnya saja, seorang guru tahu tentang metode belajar berbasis aneka sumber, tahu bagaimana menggunakannya, dan senang seandainya menggunakan, tetapi ia tidak pernah menggunakan, karena ada beberapa faktor seperti sarana belajar, waktu, biaya, dsb.

III. TAHAP KEPUTUSAN ( DECISION )
Tahap keputusan ialah tahap dimana individu melakukan kegiatan yang mengarah pada pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi. Menerima inovasi berarti sepenuhnya akan menerapkan inovasi. Menolak inovasi berarti tidak akan menerapkan inovasi.
Keputusan terdiri dari 3 jenis yaitu, jenis keputusan opsional, keputusan kolektif dan keputusan atas dasar otorita.

Tipe keputusan opsional adalah tipe keputusan yang di ambil oleh perseorangan, terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Pengenalan, dimana seseorang mulai mengetahui gagasan pembaharuan.2. Persuasi, dimana seseorang mulai menaruh minat terhadap ide-ide baru.3. Keputusan, yakni seseorang mulai terlibat dalam menerima atau menolak ide baru.4. Komfirmasi, yakni seseorang mulai berusaha mencari penguat untuk memantapkan penerimaan atau penolakan terhadap inovasi.
Tipe keputusan inovasi kolektif, yaitu tipe pengambilan keputusan terhadap suatu inivasi dengan cara konsensis di antara individu-individu yang ada dalam system social atau kelompok organisasi tertentu. Proses pengambilan keputusan ini terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Stimulasi minat akan inovasi.
2. Inisiasi gagasan baru ke dalam sistem sosial.
3. Legimitasi gagasan baru oleh pemegang keputusan.
4. Keputusan untuk melaksanakan gagasan baru.
5. Tindakan atau penerapan pelaksanaan gagasan baru.

Tipe keputusan otoritas adalah keputusan yang dipaksakan oleh seorang atasan atau pemegang jabatan kepada bawahan atau seorang individu atau kelompok. Dalam organisasi formal, adapun tahap keputusan inovasi otoritas adalah :
1. Fase Pembuatan Keputusan, Pengenalan kebutuhan untuk berubah. Persuasi dan penilaian perubahan oleh pengambil keputusan. Keputusan menerima atau menolak oleh pengambil keputusan.
2. Fase implementasi keputusan. Komunikasi inovasi yang dipilih yang diputuskan kepada unit / anggota organisasi. Tindakan penerima atau penolakan pembaharuan oleh unsur unit organisasi.

Ada dua macam penolakan inovasi, yaitu :
a) Penolakan aktif, artinya penolakan inovasi setelah melalui proses mempertimbangkan untuk menerima inovasi atau mungkin sudah mencoba lebih dulu, tetapi keputusan akhir menolak inovasi.
b) Penolakan pasif, artinya penolakan inovasi dengan tanpa pertimbangan sama sekali.

Perlu diperhatikan bahwa dalam kenyataannya, penolakan inovasi dapat terjadi pada setiap tahap proses keputusan inovasi. Misalnya, penolakan dapat terjadi pada awal tahap pengetahuan, dapat pula terjadi pada tahap persuasi, mungkin juga terjadi setelah konfirmasi.

IV. TAHAP PENERAPAN ( IMPLEMENTATION )
Tahap implementasi terjadi ketika seorang individu menerapkan penggunaan suatu inovasi. Keputusan penerimaan inovasi dibuktikan dalam praktek. Akan tetapi dapat juga terjadi, karena sesuatu hal sudah memutuskan menerima inovasi tetapi tidak diikuti implementasi, hal ini biasanya dikarenakan fasilitas penerapan yang tidak tersedia.
Dalam tahap ini, dapat terjadi hal yang disebut Reinvention (Invensi kembali) yaitu penerapan inovasi dengan mengadakan perubahan atau modifikasi. Menurut Rogers Reinvention adalah "derajat ke sebuah inovasi yang diubah atau dimodifikasi oleh pengguna dalam proses adopsi dan pelaksanaan-nya" (Rogers, 2003, hal 180) Sementara "invensi adalah proses yang baru adalah menemukan ide atau dibuat," sedangkan adopsi inovasi adalah proses untuk menggunakan inovasi yang sudah ada. Hal-hal yang memungkinkan terjadinya reinvensi antara lain:
Inovasi sanagat kompleks, dan sukar untuk dimengerti
Penerima inovasi sulit untuk memahami inovasi karena sukar untuk menemui agen pembaharu.
Inovasi memungkinkan berbagai kemungkinan aplikasi
Inovasi diterapkan untuk memecahkan masalah yang sangat luas, dsb.

V. TAHAP KONFIRMASI ( CONFIRMATION )
Tahap Konfirmasi, adalah tahap dimana individu mencari penguatan terhadap keputusan penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah dibuat sebelumnya. Menurut Rogers (2003), keputusan ini dapat dikembalikan jika individu "terbuka terhadap pertentangan informasi mengenai inovasi" (hal 189). Namun, individu cenderung untuk menjauhi konflik tersebut dan mendukung informasi yang mendukung konfirmasi keputusannya. Dengan demikian, sikap menjadi lebih penting pada tahap konfirmasi.
Individu dapat menarik kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula. Tahap ini berlangsung secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi, yang berlangsung dalam waktu tak terbatas.
Selama dalam tahap konfirmasi, individu berusaha untuk menghindari atau meminimalkan terjadinya disonansi. Disonansi adalah suatu keadaan di mana individu merasa ada sesuatu yang tidak sesuai di dalam dirinya sehingga membuatnya merasa tidak enak.
Untuk menghindari terjadinya discontinu dalam penerimaan dan penerapan inovasi diperlukan peranan yang dominan dari agen pembaharu. Tanpa adanya monitoring dan penguatan orang akan mudah terpengaruh pada informasib negatif tentang inovasi.

Ibrahim. Inovasi Pendidikan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988.

Posted in | 1 komentar